Parki yang Mirip Nasruddin Hoja

Parki sebenarnya bukanlah bernama Parki. Nama sebenarnya ialah Fajar Ananda. Tapi,
ketika umurnya empat tahun, ia berkata pada semua orang yang dijumpainya, “Aku bernama Parki.” Kenapa Parki? Sebab, menurutnya Parki adalah Pahlawan yang sangat hebat. Sedangkan Fajar, pergi ke Bulan menemui Pahlawannya, Parki. “Nanti setelah besar akan kubuat Roket, nanti akan kubawa semua teman dan keluargaku menemui Parki disana,” ujar Parki. Dan akhirnya semua orang memanggilnya Parki, termasuk orang tuanya. Baik, disinilah kita mulai cerita kita:

Parki suka membaca buku. Tapi kadang dia bosan membaca, katanya, “semuanya sudah kubaca, apa yang mau dibaca lagi?” Tapi ada satu buku yang Parki tidak pernah bosan membacanya. Itulah buku tebal Nasruddin Hoja. Kalian tau siapa itu Nasruddin Hoja? Dia adalah seorang sufi. Ada-ada saja yang sering dikatakannya atau dilakukan olehnya. Waktu ke Gramedia, Parki melihat buku itu, Parki tak mengambilnya. Sebab, menurutnya buku itu super membosankan. Tapi, ketika Ayah melihat buku itu, Ayah terlihat sangat senang. Ayah mengambilnya, lalu memberikannya pada Parki. Waktu Parki protes, Ayah bercerita kalau cerita di buku itu semuanya sangat lucu. Akhirnya Parki mengambilnya, dirumah membacanya. Parki terbahak-bahak membacanya. Nah, karena sangat lucu, Parki tidak pernah bosan membacanya.

Nah, jadi, pada suatu hari, sepulang Sekolah, Parki berjalan masuk rumah dengan langkah gontai, Ayah yang sedang membaca buku tebal Nasruddin Hoja milik Parki agak heran melihatnya. Biasanya, setiap pulang Sekolah, Parki selalu berkata, “hore! Seratus!” atau “hore! Sembilan puluh!” Tapi kali ini tidak. “Tadi ulangan mendadak, karena tidak sempat belajar dirumah, aku silangi asal saja, tapi jadinya dapat lima puluh,” kata Parki lesu tanpa ditanya. Kirana, adik Parki yang umurnya dua tahun terbahak. Parki agak marah mendengarnya. “Kenapa kamu ketawa?” serunya. “Parki, dia masih kecil, dia sendiri mungkin juga tidak tau kenapa dia terbahak bukan?” kata Ibu. Parki terdiam. Lalu melangkah ke kamarnya.

Esoknya, kembali ulangan dadakan. Parki tenang-tenang saja. Toh, dia sudah tau mau menyilangi yang mana. Kertas ulangan dibagikan. Parki mengambil pensilnya. Dia mulai menyilangi jawaban yang menurutnya benar. Ketika semua temannya sudah siap, Parki memberikan kertasnya paling akhir. Ketika gurunya memeriksa ulangannya. Gurunya kaget. Astaga! Semua a b c-nya disilanginya! “Aku tidak tau yang mana harus ku silangi, karena tidak tau, jadi aku silangi saja semuanya,” jawab Parki enteng. Gurunya geleng-geleng kepala. Lalu memberi kertasnya nilai. Berapa nilainya? Simak cerita berikut ini. Nilainya membuat terkejut seluruh dunia!

Parki memasuki rumah. “Ayah!!! Ibu!!! Lihat ulangan Parki!!!” sampai-sampai Kirana terbangun dari tidur siangnya yang super nyenyak. “Apa Parki?” tanya Ibu tergesa-gesa. “Lihat! Lihat!” kata Parki girang. Astaga!!!! Benar-benar astaga! Nilainya 300!!!!!!!! Seisi rumah sepi, setelah melihat ulangan Parki. Bahkan Kirana melongo. Lalu tepuk tangan memenuhi seisi rumah. “Parki, kamu mirip Nasruddin!” Ayah tertawa keras. Parki nyengir. “Karena aku silangi semuanya, bu guru memberi bonus 200,” Parki tertawa.
Hehe, Parki memang mirip Nasruddin Hoja kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s