Robot Kejahatan

Dulu, ada Profpintar yang ingin menciptakan robot berotak manusia. Caranya? Masukkan otak manusia kedalam kepala robot itu. Bagaimana? Nanti otaknya busuk karena makanan otak itu darah. Darah kita. Darah itu membawa nutrisi-nutrisi ke dalam otak. Tetapi robot? Darimana otak itu dapat makanan? Robot kan dari besi. Kena air atau semacamnya tentu berkarat. Bagaimana? Nah Prof.ini sepintar Albert Einstein rupanya. Diambilnya otak manusia yang sudah mati. Tapi Profini salah mengambil otak. Bukannya otak manusia baik yang dia masukkan, melainkan otak penjahat! Jangan pikir Prof.ini memang mau membuat robot jahat. Nah, Prof.ini memasukkan semacam alat kedalam otak itu. Aku sendiri tak tau namanya. Lalu Prof.itu juga memasukkan baterai kedalam alat itu. Lalu dimasukkannya kedalam kepala Robot itu. Lalu dia berkata, “nah, ini baterai bertenaga matahari, bila dia mau mengecasnya, robot ku ini tinggal membuka kepalanya, lalu meletakkan kepalanya dalam keadaan terbuka dibawah sinar matahari, nanti pasti cukup sammpai esoknya,” . Prof.itu salah! Maunya Profesor itu sendiri yang mengecasnya, sehingga bila baterainya habis, si robot tak akan bisa berbuat kejahatan. Baik, ini ceritanya:

Dengan puas si Prof.memandangi karyanya, dibukanya kepala robot itu, lalu dibisikkannya,” namamu adalah Pedro-pedro-Pedro-Pedro-Pedro, kau mengerti? Namamu Ped-ro, nah jadi robot yang baikya,” Lalu Prof.itu meletakkan robot itu di sinar matahari dengan kepala terbuka. Lalu Prof.itu masuk ke dalam rumah, hendak membaca-baca sebentar hingga baterai si robot penuh. Ketika baterainya sudah penuh, si Pedro Robot perlahan-lahan mengangkat kepalanya, ketika sudah benar-benar terangkat, dia menyeringai jahat. Astaga! Dia mau melakukan kejahatan! Pedro keluar dari halaman rumah si Prof., lalu berkata, “bip-bip-bip-Pedro-akan-pergi-melakukan-tugas-jahat-dari-bos-bip,” Pedro berjalan keluar. Sementara itu, Prof Mulai keluar, merasa dua jam pasti baterainya sudah cukup. Tak disadarinya bahwa robotnya itu kini sedang melaksanakan perintah “bos”-nya. “Astaga! Mana Pedro-ku yang “baik”?!” Prof itu berteriak. Salah Prof, maunya kau berkata, mana Pedro-ku yang jahat? Lalu si Prof mencari robotnya.

Ketika dia nyaris menyerah, robotnya datang, bukan dengan tangan kosong, melainkan seorang gadis yang berumur sekitar sebelas tahun. Di kepalanya tampak bekas memar yang nyaris menghijau. Gadis itu pingsan. Lihat! Robot kejahatan mulai beraksi! “Astaga! Pedro apa yang kau lakukan?!!!” Prof itu pasti sudah mengayunkan tangannya bila tidak ingat bahwa: Pedro itu besi, bila dia memukulnya, bukan Pedro yang sakit, melainkan tangannya. Dengan cepat Prof itu merampas gadis itu dari tangan Pedro. Lalu Prof itu mengangkat gadis malang itu tinggi-tinggi sehingga Pedro tidak bisa menjangkaunya. “Kau tetap diluar, Pedro!” kata Prof itu, tak disadarinya bahwa Pedro sebenarnya senang mendengarnya, bahwa Pedro dapat melakukan kejahatan lebih banyak lagi. “Dengan-senang-hati-sir-terima-kasih-memper-bolehkan-saya-melanjutkan-tugas-saya,” lalu Pedro pergi. Dengan cepat pikiran Prof itu menyatu, jadi ia telah salah meletakkan otak, sehingga Pedro bukannya membantu orang melainkan menjahati orang. Buktinya, gadis malang itu ada ditangan Pedro. Atau… Pedro membawanya untuk diobati Prof. Apakah Pedro menemukan gadis malang itu tergeletak di jalan? Tapi Prof tidak mampu memikirkannya, yang penting sekarang mengejar Pedro dulu. Ketika Prof hendak mengejar, Pedro sudah menjadi setengah titik kecil semut di kejauhan. Prof mendengus jengkel.

Esoknya, Pedro belum juga kembali. Untungnya gadis malang itu sudah bangun dan memberitahukan bahwa namanya Angeli. Prof lalu berkata, “apakah kau melihat robot kecil setinggi setengah meter mendekatimu? Robotnya itu ebrwarna perak, dengan satu kaki yang beroda? Kalau ya, apakah dia memukulimu?” Prof itu memberondong Angeli dengan banyak pertanyaan. Di akhir pertanyaan, Angeli mengangguk. Prof itu puas, berarti memang Pedro yang melakukannya. Lalu Prof membeli koran mingguan, lalu membacanya dirumah. Ada berita yang sangat mengejutkan baginya. Berita itu singkat aja:

Keluar An, keluarga terkaya membuat gempar seluruh dunia. Miss Angeli, anak mereka yang bungsu hilang! Mrs. Antonia, ibu Miss Angeli menangis tersedu-sedu saat mengatakannya, “waktu kemarin, Angeli-ku sayang masih bermain-main bersama para pengawal dan pelayannya. Lalu Angeli meminta dibelikan es krim, pelayannya pergi bersama pengawalnya, Angeli disuruh duduk di kursi taman di dekat situ, ketika mereka kembali, Angeli sudah hilang! Huu… Huu… Angeliku sayang.” Kakak Miss Angeli, Miss Angelina, ikut tersedu-sedu. Miss Angeli adalah adiknya satu-satunya yang sering diisenginya, tapi kemudian dia berkata, “Huu… Angeliii… Kakmiss janji gak akan ngisengin Njeli lagi… Janji…” Ayah Miss-Miss ini Mr. Anhianto. Dia sangat tegas dan disiplin meski suka bercanda dengan keluarganya. Begini katanya, “Angeli pasti melihat sesuatu yang menarik waktu duduk di kursi taman, sehingga meninggalkan pelayan serta pengawalnya, aku kenal Angeli, meskipun biasanya dia tidak seperti ini, bila ingin melihat sesuatu dia pasti berteriak minta izin sambil berlari, bila tidak diperbolehkan dia hanya menengok sedikit ke tempat itu lalu berbalik lagi smabil membaca buku.”
Demikianlah pembaca, kami harap kalian menemukan Miss Angeli yang malang itu. Ciri-ciri Miss Angeli:
1.Bermata sipit
2.Berbulu mata lentik
3.Bola mata berwarna cokelat keemasan
4.Rambut panjang sepinggang,(sering diikat kuncir kuda) dan berwarna cokelat keemasan
5.Berbibir merah mungil
6.Bertubuh tinggi(kira-kira sekitar satu setengah meter)
7.Bertubuh langsing
Dan ketika hilang memakai pakaian:
8.Blus ketat putih, dengan corak bunga berwarna biru muda
9.Rok selutut berwarna dan corak sama
10.Legging berwarna putih
11.Sepatu setinggi satu setengah sentimeter dengan warna biru muda

Prof mengamati Angeli dari kepala sampai kaki, dengan cermat. “Astaga! Kau Miss Angeli!” Angeli tersentak, mengamati Prof dengan heran, “Darimana Prof tau?” Angeli bertanya. Prof tersenyum. “Di Koran diberitahu ciri-ciri kau,” Prof berujar. “Mungkin baiknya ku telpon saja orang tuamu.”
Kring, Kring! Kring, Kring! Kring… Telpon segera diangkat. “Halo? Apa? Dik Angeli anda temukan? Baik, saya akan segera ke tempat anda, terima kasih!” tau siapa yang mengangkat? Ya! Miss Angelina!

Keluarga An (bersama para wartawan yang melihat mereka bergegas) bergegas menuju rumah Prof itu. Ketika sampai, Angeli menyambut keluarganya dengan gembira. Lalu mulailah acara wawancara itu.

Prof sampai kewalahan menjawab pertanyaan wartawan-warwan itu. “Sudah saya bilang, robot saya yang menemukannya!” ujar Prof. Tentu saja tidak dikatakannya bahwa Robotnya itu memukul putri bungsu mereka sampai pingsan. Setelah para wartawan pulang, Prof duduk sambil menggenggam uang seratus ribu tiga belas lembar. APA??!! SEJUTA TIGA RATUS??!! Ssst… Diam. Keluarga An memberikan uang itu untuk prof yang telah menemukan putri mereka. Prof sebenarnya tidak mau. Tapi mereka memaksa.

Sementara itu, Pedro sibuk berkeliaran, mencari ini-itu untuk tugas dari “bos”-nya. Yang pertama dilakukannya adalah menebang sebagian besar pohon dengan sengatan matanya. Hari super panas langsung terasa sekali, dan tentunya energi Pedro makin banyak. Kedua, mencopet!. Ketiga, dia membakar sebuah lahan kecil milik petani yang miskin. Petani itu masih kecil. Umurnya baru sepuluh tahun. Ia yatim-piatu. Ia menangis meraung-raung, satu-satunya harta miliknya terbakar habis. Pedro terbahak-bahak melihat hasil kerjanya. “ Ha-ha-ha!- “Bos”-pasti-senang-karena-aku!” dia berseru. Orang-orang bergegas mendekati gadis cilik yatim-piatu itu, lalu berusaha menghiburnya. Sementara beberapa orang yang marah sekali pada Pedro mengambil batu-bat, lalu melemparnya ke arah Pedro, tapi Pedro mengelak dengan cepat sambil terbahak bahak licik. Lalu Pedro pergi, orang-orang yang penasaran mengikutinya, sedangkan yang tidak menemani gadis cilik yatim piatu itu. Lalu Pedro sampai di rumah prof itu. Orang-orang terkejut, “ha? Professor pintar itu bosnya?” mereka bergumam heran, lalu mendatangi Prof itu. Dan tanpa ba bi bu lagi langsung menghujani Prof itu dengan berbagai pertanyaan.
“Oo! Jadi Prof yang bosnya ya!”
“Kasiahan si yatim piatu itu tau?!!”
“Lahannya terbakar habis!”
“Apa maksud kalian semua? Saya tidak mengerti,”ujar Prof yang baik.
“Ah, gak usah bohong! Pasti prof yang nyuruh kan?!!”
“Iya tuh!”
“Eh, coba kalian rasakan hari ini, panas sekali kan?” ujar Prof berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Iya! Panas gara-gara si robot jelek itu tuh!”
“Dia nebang semua pohon!”
“Prof gak pura-pura gak tau deh!” seorang anak kecil menimpali.
Akhirnya prof menerangkan dengan jelas, bahkan dengan susah payah diambilnya perekam dari otak Pedro, lalu dibiarkannya Pedro yang marah-marah.
Lalu ditunjukkannya rekamannya. Video yang menunjukkan bahwa prof yang membuat itu berkata, “Nah, jadi robot yang baik ya,”
Saat itulah orang-orang sadar, bahwa otaknya telah tertukar atau salah. Malah otak yang jahat yang dimasukkan.
Lalu Peof memanggil Pedro. Pedro mendatanginya. “Apa-bos?” kata Pedro. “Nah, lihat, dia menyangka aku bosnya.”
Lalu Prof mengambil otak orang mati yang baik, lalu dilakukannya hal yang sama, lalu dimasukkannya pada Kepala pedro, karena tenaga baterainya masih ada, Pedro langsung bersikap sopan, lalu Prof memberitahu kejadian yang dilakukan Pedro. Pedro langsung merasa bersalah, dibelinya bibit Pohon, lalu ditanamnya, lalu dibelinya kue serta rangkaian bunga yang cantik, lalu dia pergi ke rumah sakit tempat gadis yatim piatu itu dirawat. Anak itu kaget sekali. Tangannya juga kena api itu. Tangannya terbakar parah, sehingga dirawat di RS. Pedro memasuki kamarnya, awalnya gadis cilik itu takut, karena robot itulah yang membakar lahannya. Tapi Prof yang bersamanya menjelaskannya. Lalu Pedro memmberikan hadiahnya. Gadis cilik itu senang sekali, dia berterima kasih, lalu memberitahukan namanya, “Namaku Meho.” Lalu gantian Pedro. “Bip-Bip-Namaku-Pedro-Baik,” Meho tertawa. Dan Meho dan Pedro pun bersahabat. Ketika Meho tua, Pedro rusak, tapi mereka berdua masih sanggup tertawa riang.

TAMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s