Parki dan Ayah Seorang Pianis

Serial Parki: Tiga (yang duanya kan, udah)

Ayah Parki dulu juga seorang Pianis. Tapi kadang Parki malas mendengar kata itu. Ayah mengatakan itu bila Parki malas bermain Piano. Parki hanya mau bermain Piano paling lama sepuluh menit saja.
Lagu yang paling disukainya adalah Fur Elise. Tapi, Teacher Fiya, guru Les Pianonya, hanya mengajari Parki lagu yang di buku. Parki tentu malas.
Parki malas memainkan Fur Elise karena tak ada sambungannya. Parki juga hanya mau mengulang lagu yang sama sebanyak tiga atau dua kali.
Kata Ayah dulu, “Ayah dulu juga Pianis,” Ayah berkata untuk menyemangati Parki. Tentu saja itu karangan Ayah, untuk membuat Parki mau bermain Piano. Parki menutup wajahnya dengan Bantal kesayangannya yang kebetulan dibawa adiknya ke belakang. “Ayah bermain di Panggung yang sangat besar. Mungkin luasnya sekitar tujuh meter,” Ayah rupanya tak menyerah juga.
Parki membelalak.
“Lagu yang sering Ayah mainkan dulu berjudul ‘Tersenyumlah Dunia’ banyak Orang suka lagu ciptaan Ayah itu,” Ayah menyerocos terus, sementara Parki makin lama makin membenamkan kepalanya ke Bantalnya. Ayah sudah sering mengatakan itu, tapi yang Panggungnya seluas tujuh meter itu belum pernah.
“Ulang lima kali lagi saja deh,” Ayah berkata.
Parki membelalak.
Lima kali??!?!! O MAY GAT!! Tiga kali lagi aja boleh lah, tapi lima ?!!?!?!? Benar-benar’ O MAY GAT!!’
Parki menggeleng kuat-kuat.
“Oke, Ayah akan bercerita bagaimana dulu Ayah main Piano.”
Tentu saja itu bohong. Ayah tidak pernah memainkan Piano. Jangankan memainkannya, menentukan yang mana DOREMIFASOLASI(DO)saja Ayah tidak bisa. Tuts-tuts Piano itu bukan main banyaknya. Mana ada yang berwarna hitam lagi. Belum lagi dengan pedal-pedal yang ada dibawahnya. Itu mengingatkna Ayah akan pedal gas, rem dan gigi di Mobil.
“Kalau Ayah memang bisa,” Parki berujar. “Coba Ayah mainkan lagu ‘Tersenyumlah Dunia’ itu di Piano.”
Ayah garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Yaa, lagu itu udah lama, Ayah masih muda gitu,” ujar Ayah.
Parki bingung, lalu mengambil buku musiknya, lalu menunjuk lagu ‘Hot Cross Buns’.
“Coba Ayah mainin lagu ini.”
Ayah garuk-garuk kepala.
“Yaa, Ayah cuma bisa memainkannya kalau suasana tenang dan hening.”
“Oke, aku nggak akan ngomon,” kata Parki.
“Ayah cuma bisa main kalau ayah nggak capek dan suasana benar benar sepi dan hening serta tidak ada orang yang melihat.”
“Kalau Ayah cuma bisa main kalau nggak capek, Parki iya juga!”
“Masa Parki nggak boleh istirahat barang lima jam?”
Ayah membuka mulut.
“Kata Ayah kan lima kali lagi, jadinya istirahat Parki juga lima jam,” kata Parki
Ayah Menyerah, “Oke, oke, istirahat lima jam sana.”
Parki melonjak girang, Kirana adiknya ikut-ikutan.
Lalu Parki memanjat Pohon Ketapangnya.
TAMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s