Surat Dari Kakak

Kakak Aniveya sangat baik padaku, walaupun kakak sering jahil padaku. Kakak Pergi ke Bern, Swiss untuk kuliah. Kakak mendapat beasiswa dari pak Walikota untuk pergi kesana. Awalnya kakak ikut test dulu, di rumah pak Walikota.
Kakak awalnya pergi dengan senang sekali, tapi sesudah dua hari di Bern, kakak mulai kangen keluarganya, tapi tentu ia tak bisa balik selama masih kuliah.
Aku juga ikut kangen kakak. Aku kangen semua yang dibawah ini:
1.Kangen diajak kakak ke mall sekali dua bulan…
2.Kangen main catur setiap hari sama kakak…
3.Kangen pergi berenang sekali seminggu dengan kakak
4.Kangen merajut bareng kakak…
5.Kangen main bulutangkis bareng kakak…
6.Kangen makan di restoran sehat bareng kakak…
7.Kangen bercanda bareng kakak…
8.Kangen nempel stiker Kai-Lan bareng kakak yang suka Kai-Lan…
Pokoknya kangen semua deh, sepi rasanya tanpa kakak.
Suatu hari,saat sedang asyik-asyiknya menggambar kakak yang sedang membaca, pak pos datang membunyikan klakson mobilnya, lalu turun.
Aku keluar. Pak pos memandangku. “Princess Loveya?” tanya pak pos. Aku mengangguk. Lalu pak pos memberiku amplop putih.
Lalu aku masuk, memandang luar amplop.

IMG

Lalu membuka amplopnya dengan hati-hati, aku tak ingin amplop cantik itu robek.
Aku mengambil kertas didalamnya.

IMG_0023

Hehe, kakak tau aja, aku mau ikut lomba lari. Eh, sebentar, ‘kehilingan’ ini apaan sich? Oh, mungkin maksudnya ‘kehilangan’ ya. O ya, kalian tentu bngung ya, mengapa kakak menuliskan ‘white fence’ kan? Itu kan bukan alamat, kan? Jadi begini, tadi aku menelpon kakak, dan menanyakan perihal white fence itu. Kata kakak, dia lupa alamat kami, dan ketika sudah dikirim, dia baru ingat, bahwa maunya dia tanya saja alamatnya, dan berharap pak pos dapat menemukan rumah kami, karena ada tiga rumah berpagar putih.

Dua tahun kemudian, kakak menelpon, mengatakan besok dia kembali ke Jakarta, karena kuliahnya udah siap.
Tentu saja aku girang bukan main, aku lalu membereskan kamar. Lalu aku menemukan amplop putih. Aku melihat tanggalnya. Ini surat dari kakak tahun 2015, pikirku, lalu menyimpannya. Besok akan kutunjukkan pada kakak.

Esoknya, kami menjemput kakak ke bandara. Aku tak sabar sekali. Setiap ada bunyi pesawat datang kukira itu pesawat kakak, kucari kakak diantara kerumunan orang. Hihi.
Akhirnya pesawat kakak datang. Aku menyongsong kakak dengan gembira.
“Eh, adek kakak udah besar, coba, kakak dua tahun di Bern, sekarang umur kamu pasti… Sebelas tahun, ya kan, Veya?” kakak berkata. Aku mengangguk dengan girang.
Lalu kutunjukkan surat dari kakak tahun 2015. Lalu kutunjukkan kata ‘kehilingan’ itu. Kakak terkikik melihatnya.
Ah, senangnya, kakak kembali.
TAMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s