Parki dan Matahari

Parki memandang matahari dengan jengkel. “Huft… Kenapa kamu panas banget ya?” anak berumur enam tahun itu beranjak masuk dengan jengkel. Ditatapnya ibunya. Ibunya kelihatan santai-santai aja. Ayah dan Kirana juga. Parki memandang semua itu dengan jengkel. Lalu ia melangkah ke dapur. “Jangan ambil es krim lagi, Sayang, cuma sekali sehari kan?” terdengar sura ibu. “Makan jeli saja tuh, kayanya udah dingin, ditaruh di freezer.”
Parki nggak mau makan jeli. Nggak dingin. Nggak seru. Hari panas bu… Masa makan jeli. Makan es lah, kan hari panas.
Parki menghempaskan diri ke kasur. Dibacanya buku cerita tentang angkasa. Lama-lama Parki tertidur.
Ketika Parki bangun, matahari sudah terbenam. “Hhh, baguslah,” pikir Parki.
Malamnya, Parki tidur.
Esoknya, hari kembali panas. Parki kembali menggerutu. Diambilnya es krim tiga rasa banyak-banyak. Diam-diam diambilnya juga Cornetto mini dua.
Lalu setelah es krimnya habis, Parki bilang, “Bagusnya sih, nggak ada matahari, biar nggak usah panas-panas.”
Lalu dia melanjutkan membaca buku angkasa yang belum siap dibacanya. Nah, ada yang membuat parki menghentikan gerutuannya:
Matahari adalah sumber daya alam. Petani mengeringkan padi dengan matahari. Mengeringkan pakaian, ikan, dan banyak lagi. Kalau nggak ada matahari, kita nanti kebanjiran, soalnya kan hujan terus. (🙂 ).
Parki tersentak. Iya juga ya, kalau nggak ada matahri, dia nggak bisa main, nggak bisa makan ikan asin. Sekarang Parki mengerti pentingnya matahri. Sekarang Parki nggak menggerutu lagi.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s