Harumi, Si Pesolek Pintar

Di kelas Ellie, ada anak baru, namanya Harumi. Harumi dari jepang. Ellie anaknya tomboi, Ellie menatap Harumi, si anak baru, “sepertinya dia tidak tomboi,” bisik Ellie kepada teman sebangkunya yang juga tomboi, Rara. Rara mengangguk.

Angel, Lina, dan Ani, mengajak Harumi main ke rumah Lina. Harumi menyetujui. Pulang sekolah, keempat gadis itu bergegas ke rumah Lina menggunakan sepeda, soalnya, kalau enggak bergegas, di depan halte bus, mereka bakal dikerjain sama kakak-kakak SMP yang duduk di situ nunggu bus. Kata Angel, “dulu aku pulang sekolah naik sepeda tanpa Lina dan Ani, di depan halte bus, aku di kerjain sama kakak-kakak SMP itu, salah satu dari mereka mengambil kecoak dari dalam toples kecil, terus ditaruhnya di atas kepalaku, aku langsung menjerit-jerit ketakutan, kalian tahu kan, aku takut banget sama kecoak, kakak-kakak itu tertawa, lalu menyuruhku pergi, dan bilang, ambil sendiri kecoaknya! Sambil ketawa-ketawa. Aku goyangin kepalaku, terus langsung mengayuh sepeda kencang-kencang,” cerita Angel sambil tetap mengikuti Lina. Waktu sampai di depan halte bus, untungnya enggak ada kakak-kakak SMP itu di sana.

Mereka sampai di rumah Lina yang sederhana tapi luas, halamannya luas. “Kita ngapain?” tanya Harumi. “Kita bikin kue,” kata Ani. “Haaa?! Kalau tahu begitu aku bakal nolak ikut kalian,” kata Harumi dengan nada menyesal. “Emangnya kenapa?” tanya Ani heran. “Ih, enggak ngerti ya kalian ini? Watashi wa, sono onaji kiji at unzari suru am* (dari google terjemah),”kata Harumi memakai bahasa jepangnya. Teman-temannya melongo, lalu cepat cepat membuka kamus bahasa jepang dari dalam tas mereka lalu membolak balik halaman untuk menyesuaikan apa yang di bilang Harumi tadi, lalu bilang, “kenapa jijik? Kan habis itu cuci tangan?” tanya Lina sebelum mendahului teman-temannya. Harumi menggeleng, “aku baca buku aja, tapi nanti kalau bagian masukkin mentega sama masukkin adonannya kedalam cetakan, bilang aku ya,” kata Harumi sambil mengeluarkan buku bahasa jepangnya. Ketika memasukkan mentega, Harumi melakukannya selama 3 menit, untuk mencegah bajunya tidak kena mentega, waktu masukkin kedalam cetakan 2 menit. Teman Harumi adalah gadis-gadis yang sabar, mereka menunggu Harumi siap melakukan pekerjaanya yang dia pilih sendiri.
Setelah matang, Harumi memasukkan bukunya ke dalam tasnya.

Selanjutnya mereka bermain ke rumah Harumi. Mereka terkagum-kagum dengan rumahnya yang moderen, catnya putih bersih dan kuning emas. Belum lagi 3 mobil milik keluarga Harumi yang mereknya Royal Car, bisa muat 12 orang tanpa berdesakan dan ada kulkas dan TVnya lho! “anata ga watashi no uchinonaka ga hyoji sa reru made machi,**(google terjemah)” kata Harumi tersenyum melihat teman-temannya membuka kembali kamus mereka. Ternyata Harumi benar! Mereka makin kagum ketika melihat bagian dalam rumah Harumi yang banyak lukisan pemandangan jepang dengan nama Harumi di bagian bawahnya. Ternyata Harumi pintar melukis! Lukisan Harumi tampak terlihat nyata, dan mereka merasa seolah masuk kedalamnya. “Harumi hebat ya!” kata Angel. Harumi tersenyum, “tenshi o arigatogozaimasu*** (goter)” kata Harumi, kembali tersenyum melihat teman-temannya membuka kamus mereka lagi.
“Harumi wa, bareeshuzu no shimai ga araweru?****(goter)” kakak Harumi tiba-tiba datang menampakkan senyuman manis. “Enggak tahu kak,” jawab Harumi. Kakaknya mengerti, lalu mencari ke seluruh rumah.

“Harumi, kok kulit kakakmu gelap sih?” tanya Lina. “Kakak suka berjemur di pantai yang selama ini hanya di dengarnya dari teman-temannya yang berkunjung ke daerah tropis, setiap hari senin, rabu, dan jum’at,” jawab Harumi. “Ke kamarku yuk!” ajak Harumi. Teman-temannya mengiyakan ajakan tersebut.

“Waaah… Kamar Harumi sebesar rumahku!” kata Lina ketika mereka sampai di kamar Harumi yang memang besar. “Ah, biasa aja kali’” kata Harumi merendah.

“Eh, Harumi, gambar kamukan bagus-bagus, gimana kalau kamu ikut lomba melukis tingkat Internasional? “ tanya Ani dan Angel serentak. “Betul? Asyik!” kata Harumi kegirangan. “Biayanya biar kami yang tanggung,” kata Angel, Lina, dan Ani bersemangat. “Ah, enggak usah, biar aku saja,”kata Harumi. “Duitnya dari mana?” tanya Ani. “Ya dari uang yang kukumpulakan lah! Eh, semua uangku itu enggak pernah aku jajanin, uangnya nambah terus, sekarang ada 20…. Juta….” Harumi memelankan suaranya. “HA!? YANG BENER?!” tanya Angela, setelah itu dia langsung menutup mulutnya dengan tangan. “Ssst…” kata Harumi. “Dompetku ada 4, karena enggak muat semuanya.”kata Harumi. “Oke, kita sekarang ngapain nih?” tanya Angel. “ Kita menggambar yuk,” ajak Harumi. Teman-temannya mengangguk.

Waktu lomba, “da haha, da chichi,***** (goter)” Harumi melambai pada bunda ayahnya waktu mengantar Harumi lomba. “Sonogo, resu-go, Harumi omoya Lina to i-esu haha, chichi,****** (goter).”

Harumi melukis dengan cermat di setiap garisnya.

“Juara tiga, Shizuka Nimotoya! Juara dua, Ricana Georgina! Juara satu, Harumi Sakura! Juara tiga mendapat piala, piagam, dan 1 set perlengkapan melukis dan menggambar! Juara dua mendapat piala, piagam, dan 1 set perlengkapan melukis, menggambar, dan piala penghargaan! Juara satu mendapat piala dan piagam penghargaan, 1 set perlengkapan melukis dan menggambar, piala dan piagam! Selamat pada semua pemenang!” kata MCnya.

“Kamu hebat Harumi!” semua temanya dari sekolahnya datang kerumahnya, ada wartawan juga! Tukang foto juga! Halaman rumah Harumi padat oleh banyak motor dan mobil. Rumah Harumi penuh dengan suara jepretan kamera dan pertanyaan wartawan. Harumi pun menjadi pelukis terkenal se-Indonesia dan Jepang.

“Eh, Ellie, coba kamu ajak Harumi itu main bola,” kata Rara (masih ingat Ellie dan Rara kan?). “Hmm, oke,” kata Ellie. Pulang sekolah Ellie mengajak Harumi melihat dia dan teman-temannya main bola. Harumi awalnya ragu, tapi Ellie meyakinkan bahwa bola tidak akan mengenainya. Harumi juga suka nonton bola, tapi enggak suka memainkannya.

“Oke? Mulai!” teriak Rara, lalu menendang bolanya kepada Ellie. Permainan berlangsung seru, sampai bola mengenai kepala Harumi, untung enggak ada lumpurnya, karena Harumi enggak suka kotor. Tapi sakit, Harumi berlari pulang.

“Eh, Ellie, kenapa sih, kamu suruh dia nonton aja? Bukannya aku suruh main?” tanya Rara. “Hhh, kamu ini, kena’ bola aja dia udah nangis, apalagi jatuh tersandung batu. Di lapangan tadi kan banyak batunya, jatuh, berdarah lututnya, pasti nangisnya lebih keras dari yang tadi,” jawab Ellie santai. “Namanya juga cewek, cengeng,” lanjut Ellie. “Emangnya kamu enggak cewek?” tanya Rara santai. “Ya iyalah, tapi enggak kayak si Harumi itu,” kata Ellie cuek.

Lukisan Harumi waktu dijual 1, banyak yang mau beli, Harumi membuat semua lukisan itu hanya dalam sehari, hebat ya, bisa masuk Guiness Book Of World nih.

Harumi berteman baik dengan Angel, Lina, dan Ani, selamanya.

Tamat

*= aku jijik sama adonannya yang lengket itu
**=tunggu sampai kalian melihat bagian dalam rumah
***=terimakasih Angel
****= Harumi, nampak sepetu nari balet kakak?
*****=da bunda, da ayah
******=nanti, habis lomba, Harumi main ke rumah Lina ya, bunda, ayah
🙂🙂 Semoga kalian suka cerpenku yang panjang ini.🙂.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s